Kekuatan Jiwa Para Pemimpi
oleh Ridho Rasheed pada 20 Maret 2011 jam 17:56
Di akhir acara mereka berlomba, mereka saling adu ketahanan. Siapa bisa melakukan head-stand, berdiri dengan kepala dalam jangka waktu terlama, dialah sang pemenang. Sang pemenang berhak digendong bergantian selama perjalanan pulang.
Tiap menit, satu persatu peserta menyerah. Lalu tinggallah dia sendiri, si pemuda itu. Dia masih terus bertumpu di atas kepalanya bahkan sampai beberapa jam kemudian. Gila!!! Teman-temannya berseru-seru. Tapi ia tak beranjak. Wajahnya dicobakan untuk tetap tersenyum. Hingga pada satu titik waktu, ia tak tahan lagi. Serasa ada yang meledak di kepalanya. Lalu ia jatuh. Ia mencoba bangkit, namun tak bisa. Ia jatuh lagi. Dan kakinya sulit untuk digerakkan, bahkan serasa tak mampu menahan berat tubuhnya. Hari itu, usianya baru enam belas tahun.
Ia lumpuh di usia remajanya. Tapi mimpinya tak ikut lumpuh. Mimpi itu tetap menyala. Bahkan kian berkobar. Dengan kelumpuhannya, ia memilih untuk menjadi guru agama islam di sebuah sekolah dasar. Dan karena mimpinya yang menjulang, murid-muridnya tersengat. Konon, tiap kali ia mengajarkan sesuatu, murid-muridnya bak kerasukan. Mereka begitu bersemangat mengamalkan apa yang dikatakannya.
Suatu hari, disinggungnya tentang sholat malam. Maka paginya para wali murid memprotes pihak sekolah karena anak-anak mereka jadi begadang semalaman menanti sepertiga malam terakhir untuk sholat. Suatu hari, disinggungnya tentang puasa sunnah. Maka para orang tua kelabakan karena hari-hari berikutnya anak-anak kecil mereka memboikot sarapan pagi dan makan siang untuk berpuasa. Padahal hari itu musim panas begitu dahsyat.
Duhai, kekuatan apakah yang ada pada guru lumpuh itu?? Itulah kekuatan jiwa. Begitu kokohnya ia hingga jasad yang rapuh itu bagaikan matahari, bersinar meledakkan. Bertahun-tahun dalam kehidupan berikutnya, ia dipenjara Israel, sampai manusia pun bertanya apa bahayanya orang tua yang lumpuh penyakitan ini?? Dokter-dokter di penjara Israel hampir-hampir menganggapnya laboratorium hidup, karena hari tak berganti tanpa bertambahnya penyakit di tubuh sang singa berkursi roda.
Inilah lelaki lumpuh yang begitu ditakuti Israel. Hingga rudal pun terpaksa harus digunakan untuk menghabisi nyawanya. Bukan lelaki yang seperti Rambo. Bukan pula lelaki yang badannya sekekar Ade Rai. Hanya seorang lelaki lumpuh yang bicara pun terbata-bata. Suaranya juga kecil hampir kehabisan bunyi. Tapi kekuatan jiwa itulah, jiwa yang dipenuhi mimpi, keyakinan pada janji Illahi, membuatnya begitu perkasa, begitu berwibawa di hadapan jutaan pasukan bersenjata lengkap berkendara lapis baja.
Perkenalkan, namanya Ahmad Yassin...
BJN, 28/10/08
Diambil dari :
buku "Jalan cinta para pejuang", karya : Salim A. Fillah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar